seperti biasa, aku si manusia aneh yg susah tidur malam padahal tidak tidur siang ini masih terjaga. Malam ini pukul 11:27. Hening. Malam yang terasa sangat beda dengan malam-malam sebelumnya. Bisanya jam segini itu, kadai kopi dekat rumahku masih di riuhkan dengan petikan gitar bersamaan nyanyiaan sekelompok bapak-bapak. Mungkin karena hari ini malam selasa,jadi mereka libur begadang dulu hehehe. Jujur, aku lebih nyaman dengan malam yang sedikit riuh. Rasanya itu seperti ada hal yg sudah bebasin kita dari rasa sepi. Mungkin terdengar aneh, tapi memang seperti itu sudut pandangku. Entahlah bagaimana dengan kamu. Terkadang, di suatu alasan lain aku sangat suka malam. Tapi, di satu sisi secara bersamaan, malam sangat membosankan. Rasanya aku selalu menghabiskan malam yang sangat panjang. Karena mungkin aku tipe manusia aneh yang bukan pecandu tidur. Satu hal yang menyenangkan dari malam adalah "aku tidak bekerja" hanya membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Astaga! ada kecoa, hewan paling menjijikkan yanh selalu menjadi pengganggu ketika lampu kamarku padam. Aku tidur di kamar yang tidak mewah, hanya sederhana, beratapkan seng tanpa balkon atau langit" rumah tanpa gipsung. Diatas kasur coklat tanpa kayu atau penyangga, di samping sebuah lemari pakaian yang pintunya sudah tidak bisa lagi tertutup rapat, dan dengan satu buah kipas angin yang tidak bisa lagi berputar ke kanan dan ke kiri. Mungkin jika aku menulis seperti apa cara kami sebelum tidur, pasti akan memperpanjang tulisan ini. Kecoa ini bisa datang kapan saja, benar-benar mengganggu. Aku berharap, semoga suatu hari nanti, tidur di kamar ber Ac dengan ruangan yg nyaman dan bersih bisa menjadi nyata. Aku akhiri tulisan ini tepat pukul 12:01. Semalat tidur
Aku lagi kebingungan. Aku benar-benar tidak tahu perasaan apa yang sedang menganggu keberanianku akhir-akhir ini. Rasanya semakin hari, semakin tidak PD saja untuk tampil di depan umum, jangankan di depan umum, berbicara saat presentasi saja jantungku sudah berdegup kencang bukan main. Berulang kali ku hembuskan napas agar perasaan ini kembali normal seperti biasanya, tapi justru aku kesulitan dalam melakukan pengendalian itu. Ada banyak pendapat yang ingin kusampaikan saat debat kelas di mulai, tapi rasa cemas dan jantung yang berdetak semakin kencang membuat aku kesulitan berbicara. Semua ide-ide dan rentenan bahasa yang tadinya sudah terususun rapi, kini hilang tanpa sedikitpun tersisa di kepala. Sejujurnya, aku sungguh tersiksa dengan perasaan takut dan cemas ayng berlebihan ini, membuat aku tidak bisa aktif dalam bidalng apapun. Padahal aku sangat suka berhubungan dengan bidang yang berkaitan dengan komunikasi, berbicara di depan banyak orang. Tapi semenjak perasaan cemas dan taku...
Komentar
Posting Komentar