Semakin hari waktu semakin cepat aja, orang-orang juga banyak yang sudah berubah seiring berjalannya waktu. Rasanya pagi berlalu begitu saja, siang seperti tidak ada artinya, dan bagiku malam yang berbeda. Kalau kalian baca bab tulisanku sebelumnya, kalian pasti tahu seperti apa malam bagiku. Nggak tau mau nulis apa tentang waktu. Bingung. Yang jelas waktu semakin cepat.
Hemmm biasanya kalau siang hari orang-orang lagi apa di rumah? atau di luar rumah. Kalau aku, aku tetap berdiam diri di rumah, lebih tepatnya di warung. Aku lebih banyak mengabiskan waktu menjaga toko, sampai mengantuk malah hihi. Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa tidur, karena kalau aku tidur, siapa yang jaga toko siang-siang bolong seperti ini. Beberapa jam lalu, hujan mengguyur bumi, tapi tidak lama, mungkin sekitar 30 menit. Setalahnya matahari bersinar terang, panasnya berhasil membuat siapapun yang berada di bawahnya merasa tidak nyaman. Jadi wajar kalau orang-orang memilih berdiam diri dirimah. Namun anehnya, hal ini tidak berlaku untuk anak-anak. Mereka justru bahagia bersepeda sambil terbakar panas matahari, sesekali mereka beli jajanan ke warungku. Karena mereka bermain seharian di luar rumah membuat tubuh mereka sangat bau, blm lagi keringat yang mengalir di sela-sela wajah. Dekil memang, namun itu tidak menjadi masalah untuk menciptakan masa kanak-kanak yang mengesankan bukan?
Siang ini, warungku lumayan lengang, hanya beberapa orang yg datang berbelanja. Tapi suasana tidak juga sepi, karena suara masjid sedang berkumandang. Kebetulan sekali toko ku bersampingan dengan masjid. Sepertinya mereka sedang mempersiapkan sebuah acara, aku tidak tahu pasti acara apa. Ku akhiri sampai di sini dulu. Terimakasih.
Aku lagi kebingungan. Aku benar-benar tidak tahu perasaan apa yang sedang menganggu keberanianku akhir-akhir ini. Rasanya semakin hari, semakin tidak PD saja untuk tampil di depan umum, jangankan di depan umum, berbicara saat presentasi saja jantungku sudah berdegup kencang bukan main. Berulang kali ku hembuskan napas agar perasaan ini kembali normal seperti biasanya, tapi justru aku kesulitan dalam melakukan pengendalian itu. Ada banyak pendapat yang ingin kusampaikan saat debat kelas di mulai, tapi rasa cemas dan jantung yang berdetak semakin kencang membuat aku kesulitan berbicara. Semua ide-ide dan rentenan bahasa yang tadinya sudah terususun rapi, kini hilang tanpa sedikitpun tersisa di kepala. Sejujurnya, aku sungguh tersiksa dengan perasaan takut dan cemas ayng berlebihan ini, membuat aku tidak bisa aktif dalam bidalng apapun. Padahal aku sangat suka berhubungan dengan bidang yang berkaitan dengan komunikasi, berbicara di depan banyak orang. Tapi semenjak perasaan cemas dan taku...
Komentar
Posting Komentar