Langsung ke konten utama

Rasa

Hey, apakabar?, kamu dan hatimu masih baik-baik saja kan?. Kuharap seperti itu, dan seterusnya akan selalu seperti itu. Kalau aku, aku tidak bisa pastikan kabarku hari ini seperti apa. Rasa cemas, takut, bahkan khawatir sedang membelenggu menjadi tumpukan perasaan yang menjadi satu. Rasanya pingin banget kabur jauh, pergi ketempat paling tinggi dan menangis disana. Tidak akan berteriak, bahkan bersuara sekalipun. Jika saja hal itu akan terjadi, aku akan diam, melihat dan akan terus melihat. Melihat apa?. Semesta. Ya, semesta yang sudah sampai pada titik seperti ini, titik dimana dia sedang tidak baik-baik saja. Ketidak baik-baikannya itu justru sudah membuat penghuninya juga merasakan hal yang tidak baik. Banyak orang-orang harus sakit karena Virus, penghuninya harus menerima semua keadaan meski tidak tahu kapan harus berakhir, dan sebagiannya lagi harus bertahan untuk memberikan penanganan yang intensif. Huh, rasanya benci mendesah, tapi maua giamana lagi, kalau keadaan sudah seperti ini, mendesah adalah hal yang mudah untuk dilakukan.

Eh, tadi diawal aku bilang kalau aku sedang tidak baik sekarang, itu bukan hanya karena keadaan semesta, tapi juga dengan suasana hati dan pikiranku yang sampai saat ini sulit bekerja sama. Pernah nggak sih, kalian berada di fase kalau semuanya terasa sangat tidak adil, aku pinging tahu banget seperti apa bentu ketidak adilan yang menguasai hati dan pikiran kalian, dan kenapa sampai mikir kalau itu tidak adil. Yah, aku tahu, apapun itu yang terjadi atau seperti apapun perasaan itu, manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya alasan. Orang-orang bilang kalau hidup itu harus ada alasan, dan punya tujuan yang jelas, tapi tidak semua orang bisa menerimanya. Ada orang yang yang tidak mau rumit, istilahnya hidup itu nggak usah pake-pake alasan, tapikan namanya juga manusia, pemikiran tidak rasional juga wajar datang tiba-tiba, dan diakhir pasti ada penyesalan, yang ujung-ujungnya juga tidak bisa diperbaiki lagi. Huh, ini ni, yang kadang bikin aku nggak bisa terima waktu, dia terlalu cepat, sampai-sampai sebagian orang tidak sempat memikirkan tujuan hidup, tidak sempat menyusun masa depan, bahkan harapan-harapan yang selalu di doakan semua orang saat berulang tahun.

Kadang, aku selalu mearasa bahwa ada hal yang tidak adil aja, tidak hanya dalam satu bentuk, tapi dalam beberapa bentuk yang disesuaikan dengan setuasi dan kondisi, haha lebih tepatnya seperti itulah. Termasuk itu insecure, hal sederhana yang pailng banyak di tidak adilin sama orang-orang. Kemarin aku dengar podcast, masih dari seorang penulis best seller yang pernah aku sebutkan di "Tentang Saya". Kemarin penulis yang aku sangat suka itu mengangkat topik tentang insecure. Nggak nyangka banget pokoknya, seorang penulis yang menurut saya cantik itu juga pernah merasakan hal yang sama, juga pernah melewati rasa ketidak adilan yang sama. Dari situ saya jadi sadar, kalau sebenarnya manusia itu sama saja, sama-sama tidak lepas dari perasaan dan pemikiran yang itu-itu aja, yang kebanyakan orang juga mikirin hal yang sama. Mungkin kamu juga termasuk, kalau iya, coba komen deh haha. Maaf, bercanda.

Nggak cuman satu, ada lagi beberapa, contoh lainnya seperti kelulusan. Sesederhana itukan, hal yang aku anggap di satu waktu sangat tidak adil. Kenapa rasanya orang-orang itu mudah sekali lulus di sekolah-sekolah atau universitas yang bagus, keren dan terkenal. Saya justru merasa ada jembatan yang panjang sekali untuk bisa merasakan kata 'lulus' itu sendiri. Saya itu orang yang cukup berambisi, pingin menjangkau hal-hal luar bisa tanpa sadar diri terlebih dahulu . Itu yang buat saya jadi merasa ada yang tidak adil. Tapi, sejujurnya saya itu takut harus tenggelam kedalam prinsip bodoh seperti ini, saya takut jika terus-terusan membandingkan diri saya dengan orang lain, saya takut pikiran saya tercuci oleh prinsip-prinsip yang negatif. Maka, saya selalu memandang kebawah, saya mencoba untuk lebih mengamati hal-hal yang lebih kecil. Dari situ, saya bisa melihat banyak sekali pelajaran, saya jadi lebih mudah bersyukur, dan ternyata dengan bersyukur adalah satu-satunya jalan pintas yang bisa membantu saya untuk melupakan kata 'tidak adil' itu sendiri.

Dengan memetik pelajaran dari hal-hal kecil, saya jadi bisa mengangkat suatu makna yang besar, makna yang tidak banyak orang tahu seperti apa. Cukup biar saya yang merasakannya dengan cara saya sendiri. Ada lagi alasan ketidak adilan yang lain, tapi tidak bisa saya tulis disini, bukan karena rahasia. Karena jika saya tulis akan menghabiskan ruang pada blog ini, lagi pula saya yakin, tanpa dijabarkanpun kalian tahu itu apa.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya cemas, saya takut

Aku lagi kebingungan. Aku benar-benar tidak tahu perasaan apa yang sedang menganggu keberanianku akhir-akhir ini. Rasanya semakin hari, semakin tidak PD saja untuk tampil di depan umum, jangankan di depan umum, berbicara saat presentasi saja jantungku sudah berdegup kencang bukan main. Berulang kali ku hembuskan napas agar perasaan ini kembali normal seperti biasanya, tapi justru aku kesulitan dalam melakukan pengendalian itu. Ada banyak pendapat yang ingin kusampaikan saat debat kelas di mulai, tapi rasa cemas dan jantung yang berdetak semakin kencang membuat aku kesulitan berbicara. Semua ide-ide dan rentenan bahasa yang tadinya sudah terususun rapi, kini hilang tanpa sedikitpun tersisa di kepala. Sejujurnya, aku sungguh tersiksa dengan perasaan takut dan cemas ayng berlebihan ini, membuat aku tidak bisa aktif dalam bidalng apapun. Padahal aku sangat suka berhubungan dengan bidang yang berkaitan dengan komunikasi, berbicara di depan banyak orang. Tapi semenjak perasaan cemas dan taku...

:'(

Akhir-akhir ini mental saya lagi down. Sakit kepala luar biasa hampir di setiap malam. Perut kembung dan susah tidur membuat kehidupan saya semakin tidak nyaman. Capek? iya. capek membagi waktu juga iya, kayaknya hampir sering nangis juga. Pasti ada aja masalah yang bikin saya tiba-tiba mikir "kok malah jadi gini ya?" "ini seharusnya bagaimana?" seperti hari ini. Minggu pagi yang seharusnya diliputi rasa sukacita justru membasahi mataku subuh-subuh. Akh, mungkin kalau saya jelaskan, yang membaca blog ini akan bilang "Masalahnya nggak jelas banget." "Baru juga masalah kaya gitu." Iya. Saya juga tidak tahu apakah ini bisa disebut masalah atau tidak pernah masuk kedalam masalah hidup. Kan emang gitu ya? Manusia hobinya menilai sesuatu berdasarkan satu sudut pandang. Jadi wajar kalau emang ada beberapa yang tidak bisa menghargai masalah. "Itu salah lo sendiri." "Kalau lo nggak kaya gitu, nggak mungkin terjadi." Hah... sudahlah, tu...

Unek-unek

Hai semuanya.. selamat datang di tulisan paling aneh ini hehe, udah lama sekali saya tidak mampir ke blog, akun ini seperti sudah tidak terpakai oleh pemiliknya. Terakhir kali buka mungkin bulan mei lalu, bulan kelahiran saya. Niatnya mau nulis ucapan syukur di umur 20 tahun, tapi nggak tau kenapa saya nggak punya ide untuk nulis kalimat apa di sini, jadilah akhirnya draft tulisan itu teronggok sampai akhirnya di hapus juga. Hmmm sekarang udah pertengahan november aja ya, sebentar lagi dunia akan menyambut bulan paling meriah tahu ini, bulan natal, bulan yang selalu menjadi waktu paling spesial untuk merayakan banyak hal, termasuk merenung, mengingat lagi hal baik apa saja yang sudah kita lakukan di tahun ini. Kalau aku diri, aku tidak tahu hal baik apa yang sudah saya perbuat di kesempatan tahun ini. Begitu banyak harapan ini-itu yang masih belum bisa saya penuhi satu persatu. Eh semuanya. Belum ada. Hah... semakin dewasa rasanya kecewa semakin sering datang, capek setelah pulang dar...